Perasaan penyair yang tampak dalam Puisi Hujan Bulan Juni adalah perasaan orang yang sabar meskipun harus memendam rasa. Kesabaran tersebut tampak pada penggunaan kata tabah, bijak, dan arif. Dia juga ragu mengungkapkan perasaannya hingga akhirnya dia menghapus jejak-jejaknya.
Membicarakan bulan Juni tidak bisa lepas dari adanya novel ‘Hujan Bulan Juni’, karangan sastrawan legenda Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Novel terbitan Juni 2015 ini berhasil difilmkan dengan judul yang sama. Kisah yang sama pula, antara hubungan Sarwono dan Pingkan yang terhalangkan banyak hal. Sarwono sempat mengatakan mereka duduk makan seperti di bulan Ramadhan, yang berarti Juni itu mereka belum puasa. Jadi kemungkinan enggak jauh-jauh amat di belakang tahun 2017. Namun yang bikin mindblown adalah tahun yang tertera di buku puisi Sarwono adalah 1991. Puisi tak lekang waktu, dan Sarwono mengatakan pusinya ada di dunia sendiri. RESENSI NOVEL. A.IDENTITAS BUKU Judul buku: Hujan Penulis: Tere Liye Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tebal Buku: 320 halaman (20 cm) Tahun Terbit: Januari 2016 Dimensi Buku: 13,5 x 20 cm Desain Cover: Orkha Creative Berat Buku: 500 gram Harga Buku: Rp75.600 ISBN: 978-602-03-2478-4. B.ORIENTASI Identitas PengarangKumpulan puisi Hujan Bulan Juni terbit pertama kali pada tahun 1994 diterbitkan oleh Grasindo. Dalam kumpulan buku puisi yang pernah diterbitkan seperti buku Mata Pisau (1974), Akuarium (1974),
10Is.